Dinas Pertanian Jombang


TINGKATKAN 3,7 JUTA/ HA DARI KEDELAI KONVENSIONAL


Kedelai. Rasanya komoditas yang satu ini telah menjadi buah bibir sejak beberapa bulan yang lalu. Mulai dari aparatur pemerintah, pengusaha, pengrajin tahu tempe, pedagang pasar hingga petani di pelosok-pelosok desa. Topiknyapun sama, bahwa komoditas ini mulai langka dijumpai dipasaran. Berbagai masalah sosial yang muncul antara lain asosiasi pengrajin tahu tempe yang sempat mogok untuk melakukan produksi. Sebagian telah merumahkan beberapa tenaga kerja bahkan sampai ada yang tutup usaha.
Berita selengkapnya di http://bit.ly/1771qQi
Website Resmi Dinas Pertanian Kabupaten Jombang
pertanian.jombangkab.go.id

Refrensi:
https://www.facebook.com/DispertaJombang/posts/565546933520637?stream_ref=5

Sentra Batik



Sentra Batik Jombangan




Terinspirasi dari adanya candi Arimbi yang ada di Desa Ngrimbi Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, akhirnya muncul pemikiran untuk membuat Motif Batik Tulis Khas Jombang. Motif Khas Jombang adalah tumpalan berbentuk segitiga yang sudah divariasi dan diberi nama batik Jombangan.

Jombang adalah salah satu nama daerah Tingkat II yang berada di Propinsi Jawa Timur. Jombang termasuk kabupaten yang masih muda usianya, setelah memisahkan diri dari kabupaten Mojokerto. Jombang dikenal dengan sebutan Kota Santri, karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayah tersebut. Konon, kata Jombang merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa yaitu ijo (Indonesia: hijau) dan abang (Indonesia: merah). Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan (nasionalis atau kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan dan harmonis di Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah kabupaten Jombang. Hal tersebut juga menjadi inspirasi para pengrajin batik Jombang untuk membuat batik dengan dominan warna hijau dan merah.
Batik Jombang Warna Merah
Batik Jombang Warna Merah
Sumber: http://id.wikipedia.org
Batik Jombang Warna Hijau
Batik Jombang Warna Hijau
Sumber: http://id.wikipedia.org
Daerah Jombang merupakan salah satu daerah peninggalan kerajaan Majapahit. Sekalipun batik sudah dikembangkan pada jaman Majapahit, namun di Jombang kesenian membatik baru menggeliat dalam dasawarsa terakhir ini. Dulu pada tahun tahun 1944, di desa Candi Mulyo kota Jombang banyak ibu-ibu dan remaja yang mempunyai ketrampilan dan tekun membatik. Batik yang dihasilkan pada masa itu diberi nama Batik Pacinan bermotif kawung dengan warna merah bata dan hijau daun. Pada masa penjajahan Jepang, batik di Jombang mulai menghilang. Hal ini dikarenakan oleh susahnya untuk mendapatkan bahan baku dan berkurangnya pembatik.
Batik Jombang baru berkembang lagi pada tahun 2000-an. Mulanya kerajinan batik di Jombang dimulai dari membuat motif seperti motif Batik Solo. Kemudian semakin berkembang dengan menghasilkan motif-motif alam sekitar, yaitu dengan motif bunga melati, tebu, cengkeh, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi atau burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih).
Batik Jombang Motif Cengkeh
Batik Jombang Motif Cengkeh
Sumber: http://akrochan.blogspot.com
Batik Jombang Motif Bunga Melati
Batik Jombang Motif Bunga Melati
Sumber: http://akrochan.blogspot.com
Kekhasan Batik Jombang terletak pada motif dan warna, yang digali dari kebudayaan daerah Jombang itu sendiri. Dengan berbekal kekayaan warisan budaya dan agama, kemudian dipadukan dan dituangkan dalam sehelai kain batik, dan disebut Batik Jombangan. Batik Jombangan berupa ukir-ukiran segitiga dengan lancip di bawah. Motif ini terinspirasi dari sebuah relief candi Arimbi yang terdapat di Desa Ngrimbi Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan salah satu peninggalan kerajaan Majapahit, yang melambangkan pintu gerbang masuk Kerajaan Majapahit. Candi ini berstruktur dari bahan batu kali, bukan dari batu bata seperti candi peninggalan Mojopahit pada umumnya. Bentuk siluetnya yang segitiga dengan pucuk menghadap ke bawah, membuat motif arimbi tampak geometris. Bentuk siluetnya berisi ukir-ukiran yang rumit, mirip dengan batik Jawa Tengahan, berupa wajik (segitiga), bulat (lingkaran), kotak (persegi) dan garis-garis. Satu ciri umum lainnya adalah bentuknya yang simetris, kiri dan kanan sama. Motif yang dikembangkan berupa motif tawang dan kaning dengan warna dasar yang menekankan pada kehijauan dan kemerahan yang melambangkan kota Jombang.
Batik Jombang Motif Candi Arimbi
Batik Jombang Motif Candi Arimbi
Sumber: http://udlitabena.blogspot.com
Selain Candi Arimbi, motif-motif yang telah berhasil digali dari khasanah budaya asli Jombang antara lain Motif Ringin Contong, merupakan motif yang diambil dari Ringin yang berada ditengah-tengah kota Jombang. Motif Tapak Lima, merupakan motif yang diambil dari tanaman kebun yang banyak tumbuh di daerah Jombang. Motif Sandur, merupakan motif yang diambil dari kesenian daerah yaitu sandur, yang berada di Jombang Utara. Serta masih banyak motif lainnya.
Batik Jombang Motif Sandur
Batik Jombang Motif Sandur
Sumber: http://udlitabena.blogspot.com
Batik Jombang Motif Tapak Lima
Batik Jombang Motif Tapak Lima
Sumber: http://udlitabena.blogspot.com
Proses batik Jombang secara umum sama dengan proses batik di daerah lain di Indonesia. Proses batik Jombang diantaranya adalah menggunakan teknik batik tulis (baca: http://fitinline.com/article/read/proses-pembuatan-batik-tulis), batik cap (baca: http://fitinline.com/article/read/batik-cap), dan batik printing. Kain yang digunakan juga beragam, seperti kain katun, ATBM, sutra, primisima. (baca: http://fitinline.com/article/read/macam-macam-kain-untuk-batik)
Sentra batik Jombang terdapat di dua lokasi yaitu di desa Jati Pelem kecamatan Diwek, dan Desa Sukorejo.
Pemakaian Batik Jombang seperti pemakaian kain batik pada umumnya, digunakan untuk pakaian harian, terutama untuk baju atau pakaian-pakaian resmi. Mulai tahun 2006 Batik Jombang digunakan untuk seragam para pegawai di Jombang setiap hari Jumat ataupun Sabtu. Dan juga untuk para pelajar di seluruh wilayah Jombang, pada hari Rabu dan Kamis.
Batik Jombang merupakan salah satu kearifan lokal yang dikembangkan dan didukung masyarakatnya. Yuk jadikan Batik Jombang sebagai salah satu koleksi kain batik Sahabat Fitinline.
Semoga bermanfaat.
Tags: jual kain, jual kain batik, jual batik, jual kain batik murah, toko kain, toko kain batik, toko batik, toko batik online, toko kain batik online, beli kain, beli kain batik, beli batik, batik indonesia, belanja batik, belanja batik online, motif batik, harga batik

Refrensi:
http://www.jombangkab.go.id/v1/simpedal/ind/K_batik.asp
http://fitinline.com/article/read/batik-jombang























Home Industri


Home Industri Jombang


Home industri dengan berbagai produk antara lain industri makanan seperti duri lunak, kue satru.
;
Refrensi:
http://www.jombangkab.go.id/v1/simpedal/ind/K_industri_home.asp

ASMA


 

Asosiasi Pengusaha Manik - manik dan Asesoris

 
Manik-manik, hiasan dari bahan kaca untuk kalung atau gelang, produk perajin Desa Plumbon, Kabupaten Jombang, Jatim, sudah memasuki pasar ekspor Amerika Serikat dan Belanda. "Sebulan kami mengirim antara 10 sampai 12 koli dengan omset berkisar Rp 30 juta sampai Rp 40 juta," kata Nurwakhid, pengusaha perajin manik-manik Bead Flower di Jombang.
Selain ekspor, perajin manik-manik di Desa Plumbon yang berjumlah sekitar 150 juga memasarkan produknya ke sejumlah pasar dalam negeri, khususnya Bali dengan omzet sekitar Rp 20 juta per bulan.
Harga manik-manik yang diproduksi perajin desa itu berkisar antara Rp 500 hingga Rp 50.000 per biji atau tergantung jenis dan kualitasnya. Untuk memproduksi manik-manik, para perajin membutuhkan bahan baku kaca duralek sekitar 10 ton per bulan. Bahan baku itu diperoleh dari pengepul yang dipasok pemulung pecahan kaca dan sebagian lainnya impor dari Cina.

Refrensi:
http://www.jombangkab.go.id/v1/simpedal/ind/K_manik-manik.asp

APKJ

Asosiasi Pengusaha Kerajinan Jombang

Pengusaha Kerajinan Di Jombang tersebar di beberapa kecamatan. Kerajinan yang menonjol antara lain :
No.KerajinanHasilLokasi
1Anyaman BambuTempat buah, tempat pensil, tempat kue, tempat nasi dan pigora Desa jatiganggong & Desa Kepuhkajang --> Kec perak
Desa jatirejo & Desa bandung--> Kec diwek
Desa sukomulyo --> Kec mojowarno
Desa pesantren, Desa pulorejo & Desa rejosopinggir--> Kec tembelang
Desa Kertorejo --> Kec Ngoro
Desa Segodorejo --> Kec Sumobito
Desa Jombok --> Kec Kesamben
2KeramikKeramikDesa kademangan --> Kec mojoagung
3Gips & FiberglassBoneka, hewan, vas bunga, buah-buahan dan mainan Desa denanyar,Desa Banjardowo,Desa Plosogeneng,Desa Kaliwungu,Desa Tunggorono --> Kec Jombang
Desa Mojowarno --> Kec Mojowarno
Desa Temuwulan --> Kec Perak
Desa Pesantren --> Tembelang
4Mendong/PandanTikar, tempat tissue, tempat botol, tas, dompet kipas, dan lain-lain Desa made,Desa bendungan,Desa katemas,Desa kromong --> Kec kudu
Desa pagertanjung --> Kec ploso
Desa kabuh, Desa sumberringin--> Kec kabuh
Desa tondowulan --> Kec plandaan
5Kayu/ Wood HandycraftKerajinan kendaraan bermotor, becak, pedati, sepeda, pesawat terbang, kaligrafi, dan souvenir Desa Blimbing --> Kec Gudo
6Cor KuninganPatung Kuningan Desa Mojotrisno --> Kec. Mojoagung

Sekilas Perkembangan Usaha Kecil Pengecoran Kuningan

Usaha pengecoran kuningan sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat di Desa Mojotrisno Kecamatan Mojoagung, namun pada saat itu jenis produknya terbatas hanya sebagai kebutuhan rumah tangga saja misal : tempat kinangan, belanga, dsb. Kemudian pada Tahun 70 -an masyarakat telah melakukan pengembangan usaha dengan membuat produk-produk yang lebih banyak jenisnya contoh tempat cetakan kue, bel sapi dan patung-patung budha serta jenis patung hewan.
Peluang Pasar
Peluang pasar produk dari cor kuningan saat ini cukup terbuka luas, hal ini karena produk yang dihasilkan oleh pengrajin sudah dikenal diberbagai negara dan untuk pemasarannyapun sudah mencapai luar negeri antara lain : Australia, Belanda, Amerika dan Negara-negara di Asia.

Pemasaran ke luar negeri merupakan andalan, karena peminat dari produk cor kuningan adalah dari kalangan luar negeri, sampai sekarang pemasaran keluar negeri masih dilakukan melalui pihak eksportir maupun suplier. Maka guna peningkatan volume pemasaran tersebut diperlukan adanya peningkatan kerjasama yang lebih maju, sebab produk yang dihasilkan oleh pengrajin mempunyai suatu keunggulan dan beraneka ragam jenis maupun ukuran sesuai dengan pemesan.

Kapasitas Produksi dan Omzet Penjualan
Produksi kerajinan cor kuningan yang dihasilkan oleh pengrajin pada Tahun 2002 kapasitasnya mencapai sebanyak 4.045 buah dan untuk penjualan produk yaitu sebanyak 3.575 buah.

Sedangkan untuk jumlah penjualan dalam Tahun 2002 mencapai Rp. 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah), adapun harga jual dari masing - masing unit sangat bervariasi yaitu dari harga terendah sebesar Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) dan tertinggi mencapai harga Rp.1.700.000,00 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah).

Lokasi
Keberadaan dari usaha kecil cor kuningan adalah di Desa Mojotrisno Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang, dilihat dari letaknya adalah sangat strategis karena lokasi usaha berada dijalur transportasi, sehingga mudah dijangkau baik dengan kendaraan umum maupun pribadi.

Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan terhadap bahan baku tidak terdapat kendala, hal ini karena bahan baku yang dibutuhkan adalah dari bahan bekas yang mengandung logam kuningan, adapun untuk mendapatkannya sampai saat ini tidak ada kesulitan .

Selanjutnya untuk proses peleburan bahan baku sampai dengan selesai proses produksi tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan baik itu pencemaran air, udara maupun lahan.

Kebutuhan Lahan
Guna menunjang usaha Pengecoran Kuningan tidak membutuhan lahan yang luas yaitu lebih kurang 5 x 7 meter persegi dan mampu menampung tenaga kerja sebanyak dua puluh orang, dengan demikian bahwa kebutuhan lahan tidak memerlukan biaya yang besar.

Sedangkan untuk tenaga kerja tidak terdapat kendala, karena ketersediaan tenaga kerja didaerah tersebut yang mempunyai kemampuan dalam hal pengecoran maupun desain cukup tersedia, sebab keahlian cor kuningan sudah menjadi keahlian secara turun temurun. Kemudian guna memenuhi pengetahuan dan keahlian sesuai perkembangan, maka pengrajin telah mengikuti kursus dalam hal desain maupun pewarnaan.

Teknologi
Penggunaan teknologi dalam proses produksi pengecoran kuningan sampai saat ini masih bersifat sederhana, sebab penggunaan mesin maupun peralatan modern tidak ada. Selama ini proses peleburan bahan baku masih menggunakan kayu bakar, sedanghkan untuk pencetakan menggunakan semen dan lilin. Kemudian untuk pengeringan cukup dipanaskan dengan sinar matahari, namun demikian hal tersebut merupakan suatu ciri khas tersendiri yang dapat menarik minat konsumen.

Kerajinan Cor Kuningan

Salah satu peluang usaha kerajinan yang masih banyak dijumpai adalah kerajinan cor kuningan. Salah satu tempat yang banyak dijumpai pengrajin cor kuningan adalah Jombang. Pengrajin di Jombang bahkan sudah memasarkan produk cor kuningannya sampai ke Australia, Amerika, dan beberapa negara di Eropa. Pengrajin bahan kuningan ini terdapat di kecamatan Mojoagung, tepatnya di desa Mojokisno Jombang. Sedikitnya terdapat 27 pengrajin di sana. Kapasitas produksi pengrajin cor kuningan di Jombang rata-rata hingga 1 ton kuningan dengan omset mencapai 50 juta perbulan. Profitnya 30% dapat diraih dari usaha ini.



Biasanya pemasaran produk cor kuningan menggunakan sistem pemesanan. Barang dipesan terlebih dahulu untuk kemudian dibuat. Pemesanan bisa dilakukan melalui telephone, dengan pembayaran secara tunai. Biaya pengiriman ditanggung oleh pembeli. Pengemasan produk menggunakan kertas karton tempat telur dari bahan kertas pulp daur ulang dan ditutupi dengan kertas koran atau busa agar tidak lecet maupun patah. Begitulah yang dilakukan pengrajin di Jombang dalam menjalani usaha cor kuningan tersebut.

Refrensi:
http://www.jombangkab.go.id/v1/simpedal/ind/K_kuningan.asp
http://siakero.blogspot.com/2013/02/kerajinan-cor-kuningan.html

Biografi Nurcholish Madjid - Cendekiawan Muslim


Biografi Nurcholish Madjid Prof. Dr. Nurcholish Madjid atau populer dipanggil Cak Nur lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939. Dia adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia. Pada masa mudanya sebagai aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ide dan gagasannya tentang sekularisasi dan pluralisme pernah menimbulkan kontroversi dan mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Nurcholish pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi.

Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan kalam Ibnu Taimiyah. Mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah, 1972-1976; dosen pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1985-sekarang; peneliti pada LIPI, 1978-sekarang; guru besar tamu pada Universitas McGill, Montreal, Canada, 1991-1992. Fellow dalam Eisenhower Fellowship, bersama isteri, 1990. Ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa diantaranya berbahasa Inggris. Buku-bukunya yang telah terbit ialah Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang/Obor, 1984) dan Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, suntingan Agus Edy Santoso (Bandung, Mizan, 1988)

Sejak 1986, bersama kawan-kawan di ibukota, mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina, dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada gerakan intelektual Islam di Indonesia. Buku ini adalah salah satu hasil kegiatan itu. Dan sejak 1991 menjabat Wakil Ketua Dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI).

Cak Nur dianggap sebagai salah satu tokoh pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman/ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Cak Nur, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama, namun bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih. Cak Nur meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih adalah
konsep yang logis.


Sebagai tokoh pembaruan dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaruan
Islam di Indonesia. Pemikirannya dianggap sebagai mendorong pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam di Indonesia, terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

Namun demikian, ia juga berjasa ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur sering diminta nasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang merupakan imbas krisis 1997. Atas saran Cak Nur, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang lebih parah.

”Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.”
Metafora itu berulang kali dilontarkan cendekiawan Nurcholish Madjid (66) dalam berbagai kesempatan. Mengingatkan bangsa ini betapa pentingnya menunda kesenangan untuk hari esok yang lebih baik. Menahan diri dari kemewahan dan mementingkan pendidikan. ”Bila perlu orangtua melarat, tapi anaknya sekolah dengan baik,” pesannya. Cak Nur tidak hanya berpesan, tetapi menyatakannya dalam kehidupan. Kedua anaknya melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat hingga jenjang master. Kesederhanaan melekat kuat dalam keseharian kehidupannya.

Dia bukan hanya cendekiawan, tetapi pemberi inspirasi bagi bangsanya, dengan gagasan yang sering kali mendahului zamannya. Tahun 1970, ketika semangat masyarakat berpartai menggebu, putra sulung almarhum Abdul Madjid ini muncul dengan jargon ”Islam Yes, Partai Islam No”, untuk melepaskan Islam dari klaim satu kelompok tertentu, dan menjadi milik nasional. Namun, sedikit yang paham dengan gagasan ini, menganggap Cak Nur mengembangkan sekularisme.

Biografi Nurcholish Madjid
Tahun 1980-an, Cak Nur mendorong terjadinya check and balance dengan munculnya ide oposisi loyal. Guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini juga melontarkan wacana Pancasila sebagai ideologi terbuka, yang juga kembali menuai pro dan kontra. Cak Nur tak pernah surut mengembangkan intelektualitasnya. Lewat Paramadina, dikembangkan komunitas intelektual dan merengkuh kelas menengah Muslim Indonesia untuk lebih intensif mengkaji Islam. Dengan caranya, Cak Nur membuka jalan terwujudnya reformasi dengan menolak tawaran duduk di Komite Reformasi, yang akan dibentuk Presiden Soeharto untuk menghadapi tuntutan reformasi (1998). Penolakan itu meruntuhkan rencana Soeharto bertahan sebagai presiden.

Kegundahan terhadap kehidupan politik bangsa mendorong Cak Nur menyatakan siap mengikuti pemilihan presiden pada Pemilu 2004, dan lahirlah 10 program membangun Indonesia. Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata meskipun merupakan warga sipil karena dianggap telah banyak berjasa kepada negara.

Referensi :

- http://id.wikipedia.org/wiki/Nurcholish_Madjid
- http://media.isnet.org/islam/Paramadina/CakNurObituari.html
- http://media.isnet.org/islam/Paramadina/CakNur.html

Biografi K. H. Abdurrahman Wahid

                                                                                            1. Latar belakang keluarga
gusdur, tokohAbdurrahman "Addakhil", demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, "Addakhil" berarti "Sang Penakluk", sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata "Addakhil" tidak cukup dikenal dan diganti nama "Wahid", Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti "abang" atau "mas".
Gus Dur atau Abdurrahman wahid adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan "darah biru".[1]Ayah Gus Dur, Wahid Hasyim, Di lahirkan di Tebu Ireng, Jombang pada bulan Juni 1914. Ia adalah putra pertama dan anak kelima dari sepuluh bersaudara.[2]
Menurut Gus Dur, pada akhir tahun 1930-an, Wahid Hasyim dianggap sebagai salah seorang perjaka di Jombang yang paling diminati. Sebagai seorang rupawan dan cerdas, ia menerima banyak tawaran perkawinan dari keluarga-keluarga terkemuka selama beberapa tahun ia menolak semua tawaran ini. Tetapi pada suatu hari pada tahun 1930, Wahid Hasyim, yang ketika itu berusia 29 tahun, menghadiri upacara perkawinan seorang sanak saudaranya. Disana perhatiannya tercuri oleh seorang gadis muda berpakaian kerja biasa yang sedang membawa seember air untuk mencuci piring di dapur, jauh di bilik suasana pesta di depan. Ia, Sholichah, puteri K. H. Bisri Syansuri. Keesokan harinya ia menemui K. H. Bisri Syansuri dan melamar Sholichah. Dengan senang hati    K. H. Bisri Syansuri menerima lamaran itu dan tahun itupun Wahid Hasyim mengawini Sholichah.[3]
Bahwa Wahid Hasyim adalah orang yang mempunyai rasa cinta terhadap masyarakatnya, namun demikian ia sering merasa putus asa melihat cupetnya pikiran yang mengekang masyarakatnya ini. Wahid Hasyim yang pernah punya jabatan sebagai menteri Agama, ia merasa terganggu oleh sikap tergantung dan manja oleh sikap kementriannya. Namun demikian, Wahid Hasyim selalu cenderung tidak mau terganggu oleh apa saja yang tidak dapat dikembalikannya. Pada tahun 1952, setelah bertahan selama lima kabinet, Wahid Hasyim kehilangan jabatan ini dalam salah satu pergantian menteri yang sering terjadi dalam periodenya ini. Sebagai menteri, ia akhirnya bertanggungjawab untuk mengorganisasi perjalanan Naik Haji di Indonesia sehingga beberapa ribu calon jamaah Haji tidak dapat pergi ke Makkah. Kemunduran ini menimbulkan mosi tidak percaya DPR terhadap Wahid Hasyim dan pada umumnya tak ada gunanya untuk mencoba meningkatkan reputasinya. Maka Wahid Hasyim pun dengan senang hati melepaskan jabatannya.
Pada hari sabtu tanggal 18 April 1953, Gus Dur bepergian menemani Ayahnya untuk  suatu pertemuan NU di Sumedang, yang dapat ditempuh dengan mobil dalam waktu beberapa jam saja dan terletak disebelah tenggara Jakarta. Dijalan menuju kota Bandung yang berliku-liku melalui pegunungan berapi dan menjadi punggung pulau Jawa. Ketika perjalanan berada antara Cimahi dan Bandung, Wahid Hasyim dan Gus Dur bersama dengan Argo Sutjipto, seorang penerbit yang merupakan sahabatnya, terjadi kecelakaan sekitar pukul 01.00 siang tetapi mobil ambulan dari Bandung baru tiba ditempat kejadian sekitar pukul 04.00 sore. Pada pukul 10.30 pagi keesokan harinya, Wahid Hasyim tak lagi dapat bertahan dan meninggal dunia. Beberapa jam kemudian Argo juga meninggal dunia. Wahid Hasyim, yang merupakan harapan banyak orang di Indonesia, telah menghembuskan nafas terakhir, ia berusia 38 tahun. Gus Dur baru berusia 12 tahun.[4]
Kakek K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari pihak ayahnya adalah K. H. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama' (NU) dan pendiri pesantren Tebuireng Jombang. K. H. Hasyim Asy'ari dilahirkan di Jombang pada bulan Februari 1871 dan wafat di Jombang pada Juli 1947. Ia adalah salah seorang yang mendirikan NU pada tahun 1926 dan sangat dihormati sebagai seorang pemimpin Islam dalam masyarakat pedesaan yang tradisional. Ia juga dikenal sebagai seorang guru yang banyak mamberi inspirasi serta seorang terpelajar. Namun, ia juga seorang nasionalis yang teguh pendirian. Banyak dari teman-temannya merupakan tokoh-tokoh terkemuka gerakan nasionalis pada periode sebelum perang.
Keluarga K. H. Hasyim Asy'ari dengan bangga menyatakan bahwa mereka keturunan Raja Brawijaya VI, yang berkuasa di Jawa pada abad XVI dan terkenal sebagai salah seorang Raja terakhir kerajaan Hindu-Buddha yang besar di Jawa, kerajaan Majapahit. Lebih penting lagi, tokoh legendaris Jaka Tingkir, putera Brawijaya VI, dianggap sebagai orang yang memperkenalkan agama Islam di daerah pantai timur laut pulau Jawa, sedangkan puteranya,  pangeran Banawa, dikenang sebagai orang pertama yang meninggalkan kerajaan untuk mengajar sufisme. Silsilah ini dianggap sebagai hal yang sangat baik dalam masyarakat tradisional Jawa.
Setelah belajar di Makkah selama tujuh tahun, Hasyim Asy'ari kembali ke Jombang dengan tujuan untuk mendirikan pesantren sendiri. Ia pun memilih desa Tebuireng, yang saat itu tak begitu jauh dari kota Jombang, tetapi pada akhirnya tertelan oleh kota ini. K. H. Hasyim Asy'ari tetap memilih Tebuireng, walaupun teman-temanya menasehatinya untuk tidak memilih desa itu, yang saat itu penuh dengan rumah pelacuran dan tempat-tempat yang ramai dikunjungi penduduk setempat yang beroleh cukup uang dari pabrik gula setempat. Argumentasinya, sebuah pesantren harus memainkan peran dalam mengubah masyarakat sekelilingnya. pesantren K. H. Hasyim Asy'ari dibuka pada tahun1899 dan segera terkenal sebagai pusat belajar. K. H. Hasyim Asy'ari memperkenalkan sejumlah pembaharuan terhadap pengajaran di Pesantren, suatu hal yang kemudian ditiru secara luas oleh pesantren-pesantren lainnya.[5]
Lalu kakek Gus Dur dari pihak Ibu, Kiai Bisri Syansuri. Kiai Bisri Syansuri dilahirkan pada bulan september 1816 di daerah pesisir sebelah utara Jawa Tengah, sebuah daerah yang mempunyai banyak pesantren. Bersama dengan Hasyim Asy'ari, ia dianggap sebagai salah seorang tokoh kunci bagi didirikannya NU. Pada tahun 1917, ia memperkenalkan pada dunia pesantren, kelas pertama bagi santri puteri di Pesantrennya yang baru di dirikan di Desa Denanyar, yang terletak diluar Jombang. Bisri Syansuri mengambil sebidang tanah yang luas, dan benar-benar tandus. Setelah beberapa lama tanah itu berubah menjadi komunitas yang makmur dalam pengembangan pertanian, pembelajaran, dan keruhanian. Bisri Syansuri telah membuktikan dirinya bukan sekedar seorang ahli fiqh, atau Yurisprudensi Islam, dan seorang administratur pendidikan yang berbakat, melainkan juga seorang ahli pertanian yang cakap. Pesantrennya di Denanyar terkenal oleh karena pendekatan yang teratur dan berdisiplin terhadap keilmuan dan kehidupan bersama.[6] Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari ulama' NU, yaitu K. H. Hasyim Asy'ari, pendiri jam'iyah Nahdlatul Ulama' (NU) dan K. H. Bisri Syansuri merupakan tokoh NU, yang pernah menjadi Rais 'aam PBNU, dan sekaligus dua tokoh tersebut sebagai tokoh bangsa Indonesia.


2. Latar belakang pendidikan
Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya. [7]
Walaupun Ayahnya seorang menteri dan terkenal di kalangan pemerintahan Jakarta, Gus Dur tidak pernah bersekolah di sekolah-sekolah elit yang biasanya dimasuki oleh anak-anak pejabat pemerintah. Ayahnya pernah menawarinya untuk masuk ke sekolah elit,  tetapi Gus Dur lebih menyukai sekolah-sekolah biasa. Katanya, sekolah-sekolah elit membuatnya tidak betah. Gus Dur memulai pendidikan sekolah dasarnya di sekolah dasar KRIS di Jakarta pusat. Ia  mengikuti pelajaran di kelas tiga dan kemudian di kelas empat di sekolah ini tetapi kemudian ia pindah ke sekolah dasar Matraman Perwari, yang terletak dekat dengan rumah keluarga mereka yang baru di Matraman, Jakarta Pusat.[8]
Dalam waktu yang pendek, Gus Dur tidak terlihat sebagai siswa yang cemerlang. Pada tahun 1954, setahun setelah ia menamatkan sekolah dasar dan mulai sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP), ia terpaksa mengulang kelas satu karena gagal dalam ujian. Kegagalan ini jelas disebabkan oleh seringnya ia menonton pertandingan sepak bola sehingga ia tak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Pada tahun 1954, sementara sang Ibu berjuang sendirian untuk membesarkan enam anak, sedangkan Gus Dur sendiri kurang berhasil dalam pelajaran sekolahnya, ia dikirim ke Yogyakarta untuk melanjutkan pelajarannya di SMEP. Ketika di kota ini, ia berdiam di rumah salah seorang teman Ayahnya, Kia Haji Junaidi. Yang menarik adalah bahwa Kiai Junaidi adalah salah seorang sejumlah kecil ulama' yang terlibat dalam gerakan Muhammadiyah pada periode itu. Ia anggota Majlis Tarjih atau Dewan Penasehat Agama Muhammadiyah.
Hal ini mungkin biasa-biasa saja, tetapi saat itu, dan bahkan dalam beberapa dasawarasa kemudian, secara relatif hampir tidak terdapat pertautan antara kaum modernis Muhammadiyah dan kaum tradisional NU. Sebagaimana NU dulu dan sekarang, merupakan organisasi Ulama' yang mewakili Islam tradisional di Indonesia, hampir semua kaum Modernis tergabung dalam Muhammadiyah.[9]
Untuk melengkapi pendidikan Gus Dur maka diaturlah agar ia dapat pergi kepesantren Al-Munawwir di Krapyak tiga kali seminggu. Pesantren ini terletak diluar sedikit Kota Yogyakarta. Disini ia belajar bahasa Arab dengan Kiai Haji Ali Maksum. Ketika tamat sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP) di Yogyakarta pada tahun 1957, Gus Dur mulai mengikuti pelajaran di Pesantren secara penuh. Ia bergabung dengan pesantren di Tegal Rejo Magelang, yang terletak disebelah utara Yogyakarta, ia tinggal disini hingga pertengahan 1959. disini ia belajar pada Kiai Khudhori, yang merupakan salah satu dari pemuka NU. Pada saat yang sama ia juga belajar paro waktu di Pesantren Denanyar di Jombang dibawah bimbingan Kakeknya dari pihak Ibu, Kia Bisri Syansuri.
Pada tahun 1959 ia pindah ke Jombang untuk belajar secara penuh di Pesantren Tambakberas dibawah bimbingan Kiai Wahab Chasbullah. Ia belajar disini hingga tahun 1963 dan selama kurun waktu itu ia selalu berhubungan dengan Kiai Bisri Syansuri secara teratur. Selama tahun pertamanya di Tambakberas, ia mendapat dorongan untuk mulai mengajar. Ia kemudian mengajar di Madrasah modern yang didirikan dalam komplek pesantren dan juga menjadi kepala sekolahnya. Selama masa ini ia tetap berkunjung ke Krapyak secara teratur. Disini ia tinggal di rumah Kiai Ali Maksum. Pada masa inilah sejak akhir tahun 1950-an hingga 1963 Gus Dur mengalami konsolidasi dalam studi formalnya tentang Islam dan sastra Arab klasik.[10]
Tahun 1964, Abdurrahman Wahid berangkat ke Kairo untuk belajar di Universitas Al-Azhar. Namun sebagian besar waktunya di Mesir dihabiskan di ruang perpustakaan, terutama American University Library, sebuah perpustakaan terlengkap di kota itu. Dari Mesir ia pindah ke Universitas Bagdhad mengambil fakultas sastra.[11] Tidak terlalu jelas, apakah Abdurrahman Wahid menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh gelar kesarjanaannya di Bagdhad. Karena sebagain orang menganggapnya selesai dan memperoleh gelar LC. Namun sebagain yang lain menyatakan "tidak memperoleh gelar" atau "tidak selesai". Namun yang pasti, usai di Bagdhad, Abdurrahman Wahid ingin menguyam dunia pendidikan liberal Eropa.
Pada tahun1971, ia menjajaki salah satu di Universitas Eropa untuk melanjutkan pendidikannya disana. Akan tetapi, harapannya tidak kesampaian karena kualifikasi- kualifikasi mahasiswa dari Timur Tengah tidak diakui Universitas-Universitas di Eropa. Selanjutnya, yang memotivasi Abdurrahman Wahid untuk pergi ke MC Gill University Kanada untuk mempelajari kajian-kajian ke Islaman secara mendalam. Namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah terilhami berita-berita menarik sekitar perkembangan dunia pesantren.
Sekembalinya di Indonesia, ia kembali ke habitatnya semula yakni dunia pesantren. Dari tahun 1972 hingga 1974, ia di percaya menjadi dosen disamping Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari Jombang. Kemudian tahun 1974 sampai 1980 oleh pamannya, K. H. Yusuf Hasyim, di beri amanat untuk menjadi sekretaris umum Pesantren Tebuireng, Jombang. Selama periode ini ia secara teratur mulai terlibat dalam kepengurusan NU dengan menjabat Katib awal Syuriah PBNU sejak tahun 1979.[12]
3. Latar belakang sosial dan politik
Dengan latar belakang pendidikan, pergaulan dan perkenalannya dengan dunia keilmuan yang cukup kosmopolit itu, Abdurrahman Wahid mulai muncul ke permukaan percaturan intelektual Indonesia dengan pemikran-pemikian briliannya pada tahun 1970-an, ketika ia mulai aktif di beberapa lembaga sosial, LSM dan forum-forum diskusi.[13]
Menurut sementara sumber, sikap Abdurrahman Wahid itu sempat ditangkap oleh para aktivis LSM (lembaga swadaya masyarakat) di Jakarta, utamanya yang bergabung di LP3ES (Lembaga Penelitian Penerangan  dan Pendidikan Ekonomi dan Sosial). Salah satu yang tanggap terhadap fenomena Abdurrahman Wahid pada saat itu adalah Dawam Raharjo. Oleh sebab itu, kemudian ia berusaha menghadirkan Abdurrahman Wahid di Jakarta dan menjadikannya sebagai salah seorang fungsionaris di LP3ES. Mulai saat itulah Abdurrahman Wahid tinggal di Jakarta dan bekerja di LP3ES dan bergaul luas dengan para aktivis LSM, baik dari Jakarta maupun dari luar negeri.
LP3ES juga menarik bagi Gus Dur karena lembaga ini menunjukkan minat yang besar terhadap dunia pesantren dan mencoba untuk menggabungkannya dengan pengembangan masyarakat. Masih di ingat oleh Gus Dur betapa ia merasa terdorong oleh rasa hormat dan pengakuan yang dalam yang di tunjukkan oleh pimpinan lembaga ini terhadap apa yng dapat di sumbangkan pada organisasi ini.
Kepada LP3ES di berikan oleh Gus Dur pemahaman mengenai dunia pesantren dan Islam tradisional, dan dari lembaga ini ia belajar mengenai aspek-aspek praktis dan kritis mengenai pengembangan masyarakat. Kombinasi ini benar-benar cocok baginya.[14] Pada tahun 1977 ia di dekati dan di tawari jabatan Dekan Fakultas Ushuluddin pada Universitas Hasyim Asy'ari di Jombang. Dengan gembira ia menerima tawaran ini. Universitas Islam ini  diberi nama kakek Gus Dur dan di dirikan oleh suatu konsorsium pesantren untuk memberikan pendidikan tingkat Universitas kepada lulusan Pesantren.[15]
Pada tahun 1979 Gus Dur mulai banyak terlibat dalam kepemimpinan NU, yaitu di Syuriah NU. Namun kegiatan di dunia pesantren tidak di tinggalkan, dengan mengasuh pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan. 
Sebagai konsekwensi kepindahannya di Jakarta dan kiprahnya di dunia LSM sejak akhir tahun 1970-an, seperti sudah di singgung, dia mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh maupun kelompok dengan latar belakang berbeda-beda, dan terlibat dalam berbagai proyek dan aktivitas sosial. Sejak saat itu juga, ia banyak mengadakan kontak secara teratur dengan kaum intelektual muda progresif dan pembaharu seperti Nurcholis Madjid dan Djohan Effendy melalui forum akademik maupun lingkaran kelompok studi. Kemudian dari tahun 1980-1990 berkhidmat di MUI (Majelis Ulama' Indonesia). Dan, sementara itu, dia juga memasuki pergaulan yang lebih luas.
Pada tahun 1982-1985 Abdurrahman Wahid masuk sebagai ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), bergaul akrab dengan para pendeta bahkan sampai pada aktivitas semacam pelatihan bulanan kependetaan protestan, menjadi ketua dewan juri Festival Film Nasional di tahun 70-an dan 80-an, banyak mendapat kritik dari kalangan Ulama', baik Ulama' NU maupun yang lainnya.[16]  
Demikianlah latar belakang kehidupan Abdurrahman Wahid diatas perlu diketahui dalam rangka untuk mencoba menyimak dan melihat backgruond pemikirannya. Nampaknya dia adalah produk dari kombinasi kualitas personal yang khas hidupnya yang diserap dari lingkungan keluarga, pendidikan, sosial dan politik yang dilalui sejak masa kanak-kanak. Dengan memahami sosialisasi yang dilalui dalam hidupnya itu, maka dari itu, bahwa dia tidak hanya dibesarkan dan berkenalan dengan satu dunia  keislaman tradisional-meskipun dari segi nasab dan waktu belajar formal, tradisi ini yang paling dominan-tetapi sebenarnya lebih dari itu, dia adalah produk pengalaman hidup yang amat kaya dengan berbagai persentuhan nilai-nilai kultural yang kemudian secara dialektis mempunyai pemikirannya. 



[1]  “ Latar belakang keluarga,” http://GusDur,net, akses 20 Agustus 2003.

[2]. Greg Barton, Biografi Gus Dur, hlm. 30.

[3] Ibid, hlm. 32.

[4] Ibid, hlm. 40-42.

[5] Ibid, hlm. 26-27.

[6] Ibid, hlm, 28-29.
  
[7]“ Latar belakang pendidikan,”  http://GusDur,net, akses 20 Agustus 2003.

[8] Greg Barton, Biografi Gus Dur,hlm.39-40.

[9] Ibid, hlm. 46-47.

[10] Ibid, hlm. 49-50.

[11] Umaruddin Masdar, Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais,  hlm. 119-120.

[12] Abdul Ghafur, Demokratisasi,  hlm.57-58.

[13] Umaruddin Masdar, Membaca Pikiran Gus Dur dan Amin Rais,  hlm. 120.

[14] Greg Barton, Biografi Gus Dur, hlm.110-111.

[15] Ibid, hlm.118-119.

[16] Laode Ida dan A. Thantowi Jauhari, Gus Dur Diantara Keberhasilan dan Kenestapaan, cet. I (Jakarta:Raja Grafindo Persada,1999), hlm.68-69.

PERMAMIN JOMBANG

PUSAT OLEH-OLEH MAKANAN DAN MINUMAN
RUKO D.3/4 SIMPANG TIGA JOMBANG, JAWA TIMUR, INDONESIA